SANG PENAFSIR MIMPI IBNU SIRRIN



Apa yang ada di benk kita ketika mendengar Cristiano Ronaldo. Ya, kita semua tau dia adalah adalah pespakbola dengan segudang prestasi.karirya mulai brsinar ketika ketika bermain untuk MU(Mencester Unitid) sejumalah tropi liga inggris telah iya sumbangkan untuk MU dan dan menyumbangkan satu tropi Champion.Karirnya berlanjut ke club asal Sepanyol yaitu Real Madrid dan dia berhasil menyumbangkan 4 tropi liga Champion.kita mengetahui akan hal itu semua, tapi bagaimana jika kita di tanya “siapa itu abu bakar?siapa itu ibnu sirin? Dan siapa itu imam syafii?”hampir kebanyakan terdiam dan haya terdrnagr jarum jam yg brdetik . Kita semua di sibukan dengan mereka semua dan lupa dengan kehidupan para sahabat,tabii’n dan tabiu tabii’n,yg seharusnya kita sebagai umat Islam harus lebih mengenal mereka.
Di bawah ini gambaran kehidupan seorang tabii’n yg di kenal dengan ibnu sirin,harapannya denagn mengenal kehidupannya  kita bisa meneladaninya
Muhammad bin Sirin al-Anshari, ia adalah seorang Tabi'in ahli fiqh yang zuhud dan tekun beribadah, ayahnya, Sirin bekas sahaya Anas bin Malik yang membelinya dari khalid bin al-walid yang menawannya di Ain at-Tamr di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Ayah Muhammad bin Sirin adalah salah seorang hamba sahaya dari sahabat Anas bin Malik ra. Ketika ia dimerdekakan, ia langsung mengutarakan niatnya untuk menikahi wanita yang bernama sofiyah dan Allah subhanahu wata’ala mengkarunia mereka berdua anak yg dua puluh tahun kemudian menjadi ulama yg tersohor
Muhammad bin Sirin lahir dua tahun sebelum berakhirnya khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhudan tumbuh besar di suatu rumah yang dipenuhi semerbak wewangian takwa dan wara di setiap sudutnya.
Memasuki usia remaja, anak itu mendapati masjid Rasulullah penuh dengan para sahabat dan tokoh tabi’in seperti Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Imron bin Hushain, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair dan Abu Hurairah.
Betapa antusias beliau menyambut mereka seperti layaknya orang kehausan yang menemukan air yang jernih. Diserapnya dari mereka ilmu-ilmu dari Kitabullah, didalaminya masalah fiqih dan riwayat-riwayat hadis Rasulullah. Otaknya makin subur dan penuh dengan hikmah dan ilmu, jiwanya makin kaya akan kebaikan dan hidayah.
Kemudian berpindahlah keluarga beserta remaja yang brilian ini ke Basrah dan menjadikannya sebagai tempat untuk menetap.
Ketika itu, Basrah termasuk kota baru yang dibangun kaum muslimin pada akhir masa khalifah al-Faruq Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Kota tersebut merupakan kota yang istimewa bagi umat Islam pada masa itu, yaitu sebagai basis bagi pasukan muslimin untuk berperang di jalan Allah, sebagai pusat pengajaran dan pembinaan bagi penduduk Irak dan Persia yang baru memeluk Islam dan merupakan cermin masyarakat Islam yang giat berusaha untuk dunia seakan hidup selamanya dan beramal untuk akhirat seakan hendak mati keesokan harinya.
Muhammad bin Sirin menjalani lembaran hidup yang baru di Basrah dengan proporsional. Sebagian dari harinya digunakan untuk mencari ilmu dan ibadah, sebagian lagi untuk mata pencaharian dan berdagang.
Telah menjadi kebiasaan beliau, ketika matahari terbit, beliau berangkat ke masjid Basrah untuk mengajar sambil belajar. Bila matahari mulai tinggi, beliau keluar menuju pasar untuk berdagang. Bila malam menjelang, beliau tekun di mihrab rumahnya, menghayati Alquran dengan sepenuh jwia sampai menangis karena takutnya kepada Allah. Sampai-sampai keluarga, tetangga, dan sahabat-sahabat karibnya merasa iba mendengar tangisannya yang menyayat hati.
Allah telah menganugerahkan kemuliaan kepada beliau, sehingga mudah mengambil hati orang dan diterima oleh semua kalangan. Bahkan bila seseorang sedang lupa diri segera sadar begitu melihat Ibnu Sirin di pasar, mereka ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian bertahlil serta bertakbir.
Terkadang Allah ‘Azza wa Jalla memberikan keistimewaan dan kelebihan kepada hamba-Nya yang sholeh. Semua itu karena taufiq-Nya.
Dari Ibnu Mubarok bin Yazid Al-Bashri rahimahullah berkata :
“ Seorang lelaki berkata kepada Ibnu Sirin, “Aku bermimpi seolah-olah diriku terbang diantara langit dan bumi.Ibnu Sirin berkata, “Kamu adalah lelaki yang banyak keinginannya”. ( Hilyah Auliya 2 / 278 ).
Dan Abu Qolabah rahimahullah berkata,“Sesungguhnya seorang lelaki berkata kepada Abu Bakar, “ Aku bermimpi seolah-olah aku kencing dengan mengeluarkan darah”,  kemudian Abu Bakar (Muhammad bin Sirin )  berkata ,“Apakah kamu menjima’ istrimu dalam keadaan haidh ?”, Orang itu menjawab, “Ya”.
Dia berkata, “Takutlah kepada Allah dan jangan kamu mengulanginya!” ( Hilyah Al- Auliya  2 / 227).
Itulah beberapa tafsir mimpi yang dikemukakan oleh Muhammad bin Sirin rahimahullah ketika beberapa orang meminta pendapatnya tentang keanehan mimpi-mimpi mereka.
Pernah ada orang yang berdusta dengan mengatakan bahwa Ibnu Sirin berutang dua dirham kepadanya. Beliau bersikeras tidak mau membayarnya, lalu orang itu menantang, “Engkau berani bersumpah?” Orang itu mengira beliau tak akan
Beliau memiliki pemahaman yang detail tentang agama, wawasan yang tajam untuk memebedakan mana yang halal dan mana yang tidak. Ada kalanya sikap beliau mengundang keheranan bagi sebagian orang.

Perjalanan hidup beliau adalah panduan hidup yang sangat bagus bagi manusia. Setiap kali mendapatkan persoalan dalam dagangannya, beliau memilih yang lebih selamat bagi tinjauan agama walau terkadang beliau harus rugi secara materi untuk itu.
Usia Muhamad bin Sirian mencapai 77 tahun. Dalam wafatnya didapati bahwa beliau ringan dari beban dunia dan penuh perbekalan untuk hidup setelah mati. Hafshah binti Rasyid yang dikenal sebagai ahli ibadah bercerita: “Marwan al-Mahmalai adalah tetangga kami yang rajin beribadah dan tekun melaksanakan ketaatan-ketaatan. Tatkala dia meninggal kami turut bersedih, lalu aku melihatnya di dalam mimpi dan aku bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah, apa yang dilakukan Rabb-mu terhadapmu?” Dia menjawab, “Allah memasukkan aku ke dalam surga.” Aku katakan, “Kemudian apa?” Dia menjawab, “Lalu aku diangkat ke derajat meqarrabin.” Aku bertanya, “Siapa yang kamu lihat di sana?” Ia menjawab, “Aku melihat al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin.
Share on Google Plus

About haqqul muslim

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 Comments :

Posting Komentar