Ketika kita melihat keadaan saat ini, semakin sulit kita menemukan
orang-orang yang masih menggigit dan tsiqah berjalan di atas kitabullah dan
sunnah Rosulullah. Menimbang mereka yang menjalankan sunnah-sunnah Rosul
seringkali di anggap aneh dan asing di mata manusia, mereka yang berpegang
teguh dengan kitabullah dianggap tidak relevan dengan kehidupan modern
saaat ini, sehingganya semakin banyak syari’at-syari’at yang dirusak dan
dilanggar dan semakin hilang sunnah-sunnah yang di ajarkan oleh rosulullah.
Benarlah apa yang dikatakan oleh rosulullah : “Islam akan muncul
dengan keadaan asing dan akan muncul kembali dengan keterasingannya, maka
berbahagialah orang yang asing itu”. Maka janganlah merasa sedih dan
berkecil hati menjadi orang ‘asing’ atau ‘aneh’ di tengah manusia
sebab rosulullah memberikan kabar gembira bagi orang yang ‘asing dan ‘aneh’
itu.
Namun, untuk menjadi orang yang ‘asing’ itu tidaklah mudah
dan tanpa resiko, justru mereka akan merasakan beratnya perjuangan untuk menjaga
iman agar tetep lurus, mereka akan merasakan susahnya menjalankan syai’at dan
sunnah-sunnah rosul, mereka akan merasakan sakitnya hati mereka untuk tetap
bersabar dari cercaan manusia. Karena ini semua sudah menjadi sunnatullah bagi
mereka yang berpegang teguh diatas kitabullah dan sunnah rosulullah sebab orang-orang terdahulu pun di zaman Nabi
merasakan beratnya memikul syari’at Allah Subhanahu wa Ta`ala.
Dan terlebih lagi bagi kita yang hidup di zaman fitnah, zaman yang
penuh dengan kecurangan, kebodohan, dan kedzaliman, berpegang teguh diatas
keimanan tentu amatlah berat, sampai-sampai
Nabi ï·º memberi permisalan
kepada mereka yang berpegang pada sunnatullah itu seperti
menggenggam “Bara Api” sebagaimana sabdanya : “sesungguhnya di belakang
kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu
bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan amalan pada saat itu
akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan
itu. Ada yang berkata; “wahai Rosulullah, apakah itu pahala lima puluh diantara
mereka?” Rosulullah ï·º pun menjawab, “ bahkan
lima puluh orang diantara kalian ( para sahabat ).” (HR. Abu Daud, dengan sanad
Hasan ).
Begitulah rosul mengabarkan umatnya yang hidup disisa – sisa akhir
zaman, akan merasakan berat dan susahnya mereka dalam menjaga keistiqomahan
agar selalu berada dalam keimanan yang lurus dan selaras dengan kitabullah dan
sunnah Rosulullah ï·º, mereka akan merasakan sakit seperti sakitnya orang yang menggenggam
bara api, mereka harus merelakan anggota tubuhya untuk menerjang panas dan
merasakan sakitnya api fitnah dan bara cercaaan serta cemoohan manusia.
Disisi lain juga rosulullah ï·º memberi keutamaan kepada
mereka orang yang hidup dizaman fitnah, bahwa mereka akan mendapatkan pahala
yang lebih dari orang sebelum mereka (para sahabat), dengan 50 kali lipat
besarnya. Para ulama menjelaskan mengapa orang-orang yang hidup dizaman fitnah
itu mendapatkan pahala hingga 50 kali pahala para sahabat ? yaitu, karena
sulitnya mereka dalam menjaga dan mengerjakan amalan Din ketika itu,
sebagaimana sabda Nabi ï·º “kamu sekalian (wahai
para sahabatku) mendapatkan penolong –penolong dalam berbuat kebaikan, (sedang
mereka) tidak mendapatkan penolong dalam melaksanakan kebaikan.”
Para Sahabat beramal ketika Rolulullah ï·º berada di tengah-tengah
mereka, ayat turun memberi penilaian, sanjungan dan teguran kepada mereka,
sehingga suasana berbuat kebaikan marak ditengah-tengah mereka, namun berbeda
dengan generasi belakangan yang penuh dengan fitnah yang mendapatkan 50 kali lipat pahalanya. Mereka beramal dikala Nabi
hanya didapatkan dalam siroh dan sunnah, Al-Qur’an sudah tidak turun lagi,
itupun penafsiaran manusia terhadapnya macam-macam, dan suasana tidak mendukung
untuk berbuat kebaikan, bahkan kemaksiatan mereta menggerogoti ketahanan iman
dan akhlaq mereka.
Sudah barang tentu mereka yang hidup dizaman fitnah tidak lain kita
sendiri, kita umat Nabi Muhammad ï·º generasi terakhir yang hidup di akhir zaman
dengan melihat fenomena-fenomena dan tanda-tanda akhir zaman yang sudah
dikabarkan oleh Nabi ï·º, menjadi pilihan bagi kita, akankah kita menggenggam cahaya
bara api? ataukah akan hanya bersama gelapnya fitnah!!.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu menjaga
diri kita dari ancaman fitnah, dan tetap
teguh berada diatas kitabullah dan sunnah rosul-Nya meski tubuh ini harus
merasakan sakit, seperti sakitnya orang yang menggenggam bara api!!!. Sesungguhnya
Allah Maha pemberi Taufiq dan Hidayah menuju jalan yang di Ridhoi-Nya.
Oleh :
Muhammad Hud Musa
Mahasiswa Semester 1 PTA Islamic Center Bekasi


0 Comments :
Posting Komentar