GENERASI Mujahid adalah generasi Muslim penerus
pejuang Islam yang mengamalkan, mendakwahkan, dan memperjuangkan tegaknya
Syari’ah Islam, baik secara individu (sendiri) maupun institusional
(bersama-sama). Sebagai pelanjut perjuangan penegak Syari’ah Islam, maka setiap
mujahid bertanggung jawab atas pasang surutnya dakwah kebeneran, tegak atau
runtuhnya bangunan Islam. Siapapun orangnya yang masih menghembuskan nafas
syahadatain, dimanapun ia berada dan pada posisi apapun ia berperanserta,
memiliki kewajiban dan pentingan yang sama untuk menegakkan kebeneraran dan
meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta`ala dia atas kalimat manusia.
Inilah empat Karakteristik Mujahid
mengayunkan langkah perjuangan menegakkan Syari’ah Islam.
1.
Persaudaraan berasas Aqidah Tauhid
Firman Allah Subhanahu wa Ta`ala :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara.
Karena itu, damaikanlah diantara saudaramu, dan bertaqwalah kamu kepada Allah,
supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs. Al-Hujrat, 49:10).
Persaudaraan berarti menganggap orang lain
seperti dirinya sendiri karena adanya kesamaan tertentu. Orang-orang yang
merasa dirinya terikat oleh kesamaan terstentu, merasa menjadi satu diri dengan
orang lain. Seperti persaudaraan nasional (ukhuwah wathaniyah) merasa
bersaudara karna kesamaan ras, etnis, tanah air dan lain-lainnya. Demkian pula,
persaudaraan kemanuasiaan (ukhuwah basyariyah) mengikat kebersamaannya
berdasarka HAM (Hak Asasi Manusia)
Untuk mengetahui apakah kita berpegang kepada
syariah islam atau mengikuti hawa nafsu, pendapa dan pernyataan para Imam di
bawah ini dapat menjadi rujukan bagi para mujahid, yaitu:
I.
Berkata Imam Ahmad:
“Janganlah engkau mengikuti pendapat tokoh-tokoh kamu dalam urusan agamamu,
karena mereka tidak akan pernah selamat dari kesalahan.”
Maksutnya,
seseorang tidak boleh mendasarkan tolak ukur benar dan salah kepada pendapat
manusia, melainkan harus tetab berperinsib kepada ketetapan Allah Subhanahu
wa Ta`ala dan Rasul-Nya. Hanya dengan
mengikuti ketetapan inilah yang dapat menjamin kaum muslim bersatu dalam
barisan kebeneran.
II.
Berkata Imam Ibnu Qayim:
“Kita tidak boleh fanatik kepada kelompok tertentu untuk melawan kelompok
muslim yang lain. Akan tetapi kita sejalan dengan setiap kelompok yang
mengikuti kebeneran dan menolak kelompok yang menyalahi kebenaran, tanpa
mengagungkan kelompok tertentu dan pendapat tertentu.”
Maksutnya, kita
hanya akan berpegang kepada kebeneran Syari’at dan ketetapan Allah Subhanahu
wa Ta`ala di dalam mengikat diri
kita dengan orang lain, sehingga kita dapat menjadi bersaudara dan bersatu.
2.
Berterus Terang dengan Kebeneran
Firman Allah Subhanahu wa Ta`ala :
“Maka sampaikanlah olehmu secara
terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari
orang-orang yang musyrik.sesungguhnya kami memelihara dari pada (kejahatan) orang-orang
yang memperolok-olokkan (kamu). Yaitu orang-orang yang mengnggap adanya Tuhan
yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)”. (Qs. Al-Hijr, 15: 94-96)
Al-Qur’an datang dengan lantang memproklamirkan
aqidah tauhid dan secara terang-terangan menuntut umat manusia untuk hanya
bertuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala, tunduk dengan sukarela
kepadanya dan membersihkan kehidupan manusia dari segala bentuk keyakinan dan
perbuata syirik. Dengan terang-terangan dan gaya yang berpengaruh ke dalam jiwa
umat manusia, Al-Qur’an dengan suara lantang menggedor kelalaian hati umat
manusia terhadap ajaran tauhid dan mengingatkan fikiran sesat yang bersemayam
di dalam hati kaum jahiliyah serta menghujat fikiran-fikiran dan argumentasi
dusta yang dibawa oleh umat manusia.
3.
Kesedian Berkorban jiwa dan Harta di jalan
Allah
Para sahabat pada masa awal dakwa Rasulullah di
Makkah telah membuktikan diri memenuhi tawaran Allah Subhanahu wa Ta`ala ini. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat
bernama Abdullah bin Rawahah, seorang muslim yang datang dari kota Yatsrib,
melakukan bai’at aqabah kedua dengan Rasulullah. Dalam bai’at ini Abdullah bin
Rawahah berkata, kepada Rasulullah: “Berikanlah syarat Tuhanmu dan dirimu
sesuai dengan kehendakmu.” Rasulullah menjawab: “Saya mensyaratkan untuk
Tuhanku kepada kalian, yaitu kalian hanya menyembah kepadanya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan untuk diri saya, saya
syaratkan kepada kalian supaya kalian membelaku dengan jiwa dan hara kalian.
Lalu Abdullah bin Rawahah berkata, “Apa imbalan yang kami peroleh, kalau kami
memenuhi syarat-syarat itu?” Rasulullah menjawab: “Surga.” Lalu Abdullah
berkata, “Ini adalah jual beli yang menguntungkan, kami tidak akan mundur, dan
kami tidak mau meminta pembatalan atas janji ini,”.
4.
Disiplin Menjalankan Dakwah dan Jihad
Dakwah adalah mengajak manusia untuk mengesakan
Allah Subhanahu wa Ta`ala, dan menerapkan Syari’ah-Nya, sebagai
satu-satunya way of life (manhajul hayah), ketetapan dan ketentuan serta
aturan hidub manusia. Manusia dilarang menyandingkan tatanan lain di samping
Syari’at Allah Subhanahu wa Ta`ala sebagai tatanan kehidupan di dalam
urusan apa saja. Sedangkan jihad yang dimaksutkan disini adalah, usaha
sungguh-sungguh untuk memperjuangkan dan menerapkan Syari’ah Islam dalam semua
segi kehidupan, baik secara peribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan
bernegara; termasuk perlawanan yang bersifat opensif maupun defensif ketika
mendapat serangan dari musuh Islam.
Islam menuntut setiap kaum Muslimin hidup di
tengah masyarakat yang menjalani kehidupan real, menghasilkan amal shalih dan
memerangi segala bentuk sistem jahiliyah. Islam bukanlah agama individualis,
agama yang puas dengan terlaksananya ibadah orang-orang di masjid atau tempat-tempat
ibadah lainnya, terpisah dari kancah kehidupan bermasyaraka dan bernegara.
Islam tidaklah datang untuk menyuruh manusia menjadi pertapa, menyingkir dari
pergaulan dengan orang lain dan membiarkan kehidupan manyarakat bernegara
diatur oleh faham dari sistem kafir. Tapi Islam datang untuk menguasai dan
mengarahkan kehidupan individu, masyarakat, dan negara dengan landasan Syari’at
Allah dan menuju kepada penyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala,
semata-mata.


0 Comments :
Posting Komentar